
Perkembangan pesat teknologi digital dan ekonomi berbasis data pada tahun 2026 semakin memperlebar kesenjangan ekonomi global. Negara dan individu yang mampu memanfaatkan teknologi digital—termasuk kecerdasan buatan (AI), big data, dan otomatisasi—mendapat keuntungan besar, sementara mereka yang tertinggal menghadapi risiko marginalisasi ekonomi.
Negara maju dan perusahaan besar menguasai sebagian besar infrastruktur digital, platform teknologi, dan pasar data global. Hal ini memberi mereka akses ke produktivitas yang lebih tinggi, inovasi teknologi, dan pasar internasional, yang pada gilirannya meningkatkan ketimpangan dengan negara berkembang yang masih bergantung pada industri tradisional dan ekspor bahan mentah.
Di tingkat individu, transformasi digital juga menciptakan kesenjangan keterampilan. Pekerja dengan kemampuan digital tinggi menikmati peluang kerja yang lebih baik, gaji lebih tinggi, dan keamanan ekonomi. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki akses pendidikan atau pelatihan teknologi digital menghadapi risiko pengangguran atau pekerjaan dengan upah rendah, memperkuat jurang sosial-ekonomi.
Selain itu, pandemi digital dan monopoli platform global semakin menegaskan dominasi ekonomi negara maju. Perusahaan teknologi besar memanfaatkan data dan AI untuk mendominasi pasar, menekan pesaing lokal di negara berkembang, serta memengaruhi kebijakan perdagangan dan ekonomi global.
Ketimpangan ini juga berdampak pada pembangunan sosial dan politik. Negara atau komunitas yang tertinggal digital berisiko mengalami stagnasi ekonomi, terbatasnya akses layanan publik modern, dan tekanan sosial akibat ketidakadilan ekonomi. Beberapa analis bahkan memperingatkan bahwa ketimpangan digital-ekonomi dapat memicu ketidakstabilan sosial di berbagai wilayah.
Para pakar menekankan pentingnya kebijakan global yang inklusif, termasuk investasi pendidikan digital, peningkatan akses internet, serta dukungan teknologi untuk usaha kecil dan menengah di negara berkembang. Tanpa tindakan ini, era digital berisiko memperkuat ketimpangan yang sudah ada, alih-alih menjadi alat pemerataan ekonomi global.
Kesimpulannya, era digital menghadirkan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperlebar kesenjangan global. Tantangan dunia saat ini adalah memastikan teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan pemicu ketimpangan yang lebih parah.